Orang-orang pada umumnya melihat Fenomena seperti hanya sebatas Fenomena Alam, pemandangan yang menakjubkan tanpa memaknainya serta menambah “nilai” pada dirinya. Tapi tidak bagi seorang Muslim, dalam Islam peristiwa seperti ini merupakan salah satu sarana bagi dirinya untuk semakin memantapkan keimanannya, dengan berfikir tentang Alam semesta, salah satunya Gerhana Matahari.
 
Gerhana Matahari adalah salah satu Tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, ini pernah di singgung Nabi Muhammad shallahualaih, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah……..” (HR Bukhari)
 
Ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an.
 
Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya (tanda-tanda kekuasaanya) maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)
 
Karena itu, Gerhana Matahari harus memberi nilai dalam keimanan kita, bukan hanya sekedar menyaksikannya, menontonnya, apalagi jika dibarengin dengan kemaksiatan (sambil berkencan, pacaran, berselfie yang berujung Ujub dan riya’ dll).
 
Mitos tentang Gerhana Matahari
 
Banyak sekali Mitos-mistos tentang gerhana matahari, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin mengatakan fenomena gerhana ini tak lepas dari mitos tradisional itu dan mitos modern. (BBC 8/3)
 
Satu Mitos yang beredar di indonesia adalah tentang Batara Kala (seringkali digambarkan sebagai raksasa) menelan Matahari dan Bulan yang menyebabkan keduanya menghilang, lalu muncul kembali setelah dimuntahkan.
 
anggapan orang-orang jahiliyyah dahulu bahwa  Gerhana berkaitan dengan Kelahiran dan kematian seseorang, adapun orang-orang Yunani Kuno percaya bahwa gerhana matahari merupakan tanda kemarahan dewa-dewi dan terjadinya fenomena tersebut merupakan peringatan akan datangnya bencana dan kehancuran.
 
Semua anggapan sesat ini telah di tentang oleh Rasulullah Muhammad shallallahualai lewat lisannya yang Mulia  Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang” (HR Bukhari)
 
Hadits diatas menerangkan terjadinya Gerhana Matahari karna tanda-tanda kebesaran Allah, bukan yang lain. Juga bahwa gerhana tidak ada kaitannya dengan kematian dan kelahiran seseorang.
 
Sikap seorang Muslim
 
Pertama, Seorang Muslim harus menilai fenomena ini sebagai tanda kebesaran Allah dan semakin menambah keyakinan dan keimanan mereka
 
Kedua, Mengingat Allah (berdzikir) membesarkan Nama Allah serta bertakbir, Tentang hal ini para ‘ulama mengatakan bahwa takbir saat gerhana bukan seperti takbiran pada hari raya. Tetapi mengagungkan Allah seraya bertakbir dengan suara lirih atau pelan.
 
Ketiga, mengerjakan shalat Kusuf atau Khusuf (Gerhana). Dianjurkan dilaksanakan secara berjama’ah, dilaksanakan di dalam masjid, tanpa adzan dan iqamat, perempuan juga bisa ikut shalat.
 
Tatacara pelaksanaan Shalat Gerhana berjumlah dua raka’at, empat kali rukuk (dalam dua raka’at) pendapat ini yang paling kuat yang diambil oleh para ulama (lihat Risalah Shalat, KH. Akhyar Suhada dkk. Hal, 261) dengan berdasarkan hadits Riwata Bukhari dan Muslim dan jumlah sahabat yang meriwayatkan lebih banyak.
 
Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan,
 
Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901). Wallahu a’lam