Home / Buku

Senin, 2 Maret 2020 - 07:40 WIB

Novel Si Anak Badai : Tekad Badai Menyingkirkan Semua Keculasan

admin - Petamilenial.com

Informasi

Judul Buku : Si Anak Badai
Penulis : Tere Liye
Co-author : Sarippudin
Halaman : 318
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan : I, Agustus 2019
ISBN : 978-602-5734-93-9

Tere liye seakan tidak kehabisan ide untuk membuat cerita yang memuat kisah sederhana tapi mengena di hati pembaca. Kisah yang diangkat dalam serial Anak Mamak adalah kisah sederhana yang dibalut petualangan anak-anak khas tahun 1999-kebawah. Tere Liye seakan ingin mengajak pembaca megingat masa kecil sederhana yang mungkin terlupakan oleh karena zaman yang begitu berubah.

Misalnya kisah petualangan Pukat dan Saudara-saudara nya yang merupakan kisah dengan latar tempat pedalaman Sumatera pada tahun-tahun ketika negeri ini baru merdeka. Latar yang sungguh berbeda dengan zaman sekarang, kondisi yang begitu kontras dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. novel serial Anak Mamak ingin menunjukkan, walaupun peradaban sekarang sudah menyentuh titik kemajuan dalam sejarah umat manusia, ada satu hal yang membuat kit begitu tertinggal dengan anak-anak zaman dulu, yakni kemajuan moral dan akhlak yang seharusnya menjadi jiwa masyarakat Indonesia.

Kali ini saya akan mereview novel Si Anak Badai yang merupakan seri terbaru dari serial anak mamak. Novel yang tak kalah seru dari novel pendahulunya


Sinopsis

Badai kembali membungkus kampung kami. Kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes air hujan dengan riang. Inilah kami, Si Anak Badai. Tekad kami sebesar badai. Tidak pernah kenal kata menyerah

Buku ini tentang Si Anak Badai yang tumbuh ditemani suara aliran sungai, riak permukaan muara, dan deru ombak lautan. Si Anak Badai yang penuh tekad dan keberanian mempertahankan apa yang menjadi milik mereka, hari-hari penuh keceriaan dan petualangan seru


Ketika membaca halaman pertama dari novel ini, saya sudah menebak jika cerita akan berlatar kehidupan disekitar perairan. Latar tempat yang membuat novel ini berbeda dengan pendahulunya yang berlatang di perkampungan pelosok hutan. Main character adalah seorang anak laki-laki yang dipanggil ‘Kak Za’ oleh adiknya yang bernama Fatah. Bab pertama berhasil membuat perhatian terfokus pada kisah action atau laga, Fatah dan kakaknya sedang berhadap muka dengan bajak laut yang kejam.

Nama legkapnya Zainal dan adik laki-lakinya bernama Fatahillah. Ada satu lagi adiknya yang perempuan bernama Tia. Za menjalani kehidupan ‘biasa’ dalam keluarga dan lingkungannya. Lupakan saja jika anda berharap mendapat mendapatkan kisah action/laga yang membuat adrenalin memuncak, karena serial anak mamak adalah adalah cerita nostalgia masa kecil yang dibalut kesederhanaan. jadi novel ini lebih cocok jika ditemani kursi santai, kopi dan manisan yang cukup. Dan yang terpenting, waktu yang sangat luang.

Baca juga  [Book Review] Si Anak Cahaya : Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya

Back to discuss. Walaupun 98 persen cerita tidak seperti yang diceritakan pada prolog pada bab pertama, faktanya kisah ini dibuat lebih realistis lagi supaya sesuai dengan khayalan Za di prolog, yakni melawan bajak laut kejam yang ingin menyerang kampung halamannya yakni Manowa. Pembukaan yang sungguh menarik, sekaligus kejam. Pembaca yang berekspektasi dengan genre action/laga harus jatuh dan tenggelam dalam cerita yang berbeda dengan harapan yang dibuat di prolog.

Walaupun tidak menyerang kampung manowa secara harfiah, penguasaha dengan tampang bajak laut datang ke kampung Za untuk membawa misi yang sama, menghancurkan kehidupan disana. Petualangan sebenarnya dimulai dari sini. Ketika za dan teman-temannya yang unik dan kocak harus berbuat dengan berbagai macam cara, penuh perjuangan dan kisah pilu untuk menyelamatkan kampung mereka.

Kampung manowa adalah kampung yang berdiri diatas muara sungai. Kampung yang digambarkan begitu tenang, ketika suara aliran air muara yang begitu menenangkan seolah-olah menjadi musik bagi orang yang berjalan diatas kayu yang dibuat sebagai jalan tempat orang berlalu lalang. Rumah-rumah warga yang berdampingan, dengan segala macam kekhasan pemukiman diatas laut, tangga dapur yang terhubung langsung dengan aliran sungai. Tempat tinggal yang menjadi kehidupan bagi manusia diatasnya.

masyarakat mengais kehidupan dari hasil laut, sebagian masyakat adalah pelaut, mungkin yang agak berbeda adalah Ibunya Za yang bekerja sebagai penjahit satu-satunya di Manowa, Guru Rudi dan Bu Rum yang berprofesi guru, beberapa pegawai kecamatan termasuk bapaknya Za. Mungkin bisa ditambah Pak Kapten sebagai pensiunan Kapten Kapal besar. Selain itu adalah masyarakat yang menggunakan laut sebagai mata pencarian, nelayan, supir kapal, pelaut dan lain sebagainya. Kehidupan yang tenang disini, tiba-tiba terusik ketika ada pengusaha yang menggandeng pejabat provinsi untuk membuat pelabuhan besar diatas Kampung Manowa.

Gambaran kearifan lokal yang melawan modernitas mungkin akan terbayang. Begitulah setidaknya gambaran umumnya, selebihnya adalah keseruan kisah Za dan 3 orang temannya menyelinap malam-malam untuk mengumpulkan bukti keculasan Si Bajak Laut dan Pejabat Provinsi. Kisah sedih ketika Kapten yang menjadi orang terdepan membela kepentingan kampung sekaligus yang lantang menolak pembangunan pelabuhan harus mendekam di penjara. Mungkin terlalu dini untuk berkata demikian, karena kalian harus membacanya sendiri agar merasakan bagaimana rasanya terjun kedalam badai!

Baca juga  Review Novel I Saw the Same Dream Again Karya Sumino Yoru

Malim, Ode dan Awang adalah teman Za yang memiliki porsi yang lumayan banyak dalam cerita ini. Keseharian mereka sederhana, belajar di sekolah yang berada diatas muara, memancing khas anak laut, jajan di warung Kak Ros. Dalam cerita belum ada tanda-tanda jika Kak Ros yang berjualan di kampung manowa mempunyai adik kembar yang botak dan nakal. Bisa ambyar cerita ini nanti.

Yang unik adalah kegiatan di akhir pekan, ketika mereka duduk di bale atau dermaga kecil yang punya atap dan tempat lesehan, duduk santai sambil menunggu kapal datang lewat atau berlabuh di kampung mereka. Disaat itulah anak-anak kampung berlompatan ke sungai berenang ke arah kapal sembari berteriak-teriak “JURAGAN”, “PAK HAJI” supaya mereka yang berada diatas melempari uang koin ke air sungai. saat itulah anak-anak yang berenang akan berlomba menjadi yang pertama mencari logam tersebut. Bagaimana bisa mereka mencari logam kecil di kedalaman air sungai? Inilah Kegiatan unik yang dilakukan anak-anak manowa setiap akhir pekan saat libur sekolah.

Kritik

Menurut saya, dari muatan kisah dan apa yang hendak disampaikannya, novel ini layak dibaca. Tetapi yang perlu dikomentari adalah posisi main character yang tidak memiliki posisi sentral dalam cerita. Walalupun cerita menggunakan sudut pandang pertama, saya tidak merasakan kekhasan dari tokoh utama. Seolah-olah tokoh utama kesulitan mendapat perhatian dalam kisahnya, karena pembaca mungkin lebih tertarik pada Awang dan Fatahillah. Yah mungkin bedanya cuma saat main character mendapatkan perhatiannya ketika teman-temannya selalu mencomblangnya. Teman-teman, ibu, pak kapten dan masyarakat suka sekali menjodoh-jodohkan Za dan Rahma. Walaupun hubungan mereka pada akhirnya sama sekali tidak memiliki kejelasan.

Jika kalian ingin membaca novel sembari mengingat masa kanak-kanak yang hampir dilupakan oleh diri anda sendiri, serial anak-anak mamak mungkin bisa jadi pilihan, Si Anak Badai mengangkat cerita yang unik dan berbeda jika dibandingkan dengan pendahulunya. Tapi jangan lupa ya untuk selalu prioritaskan bacaan sekolah mu. Membaca itu memang bagus, tetapi tau saatnya kita harus membaca apa adalah kewajiban supaya membaca tidak hanya berupa kegiatan mengumpulkan informasi, tetapi juga pematangan proses berfikir.

Share :

Baca Juga

Buku

[Book Review] Si Anak Cahaya : Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
Novel i saw the same dream again

Buku

Review Novel I Saw the Same Dream Again Karya Sumino Yoru