Setiap tahun kota Makkah dan kota Madinah tidak pernah sepi dari manusia. Selalu ramai didatangi oleh manusia dari segala penjuru bumi. Jutaan manusia berkumpul dalam satu tempat dengan tujuan yang sama, yakni memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak ada satupun dari mereka yang berkumpul dalam ibadah haji tersebut, kecuali mereka telah melepas segala atribut kenamaan mereka, atribut jabatan dan kasta. semuanya sama, tidak ada perbedaannya di hadapan Allah Ta’ala.

Kenapa Haji dikategorikan oleh Allah sebagai salah satu rukun islam yang terakhir? Karena Ibadah ini merupakan wujud dari ketaatan seorang muslim sepenuhnya. Baik jika kita meninjaunya dari segi pribadi dan kaum muslimin secara keseluruhan.

Kita bisa melihatnya, ketika jutaan manusia bertawaf atau mengelilingi kakbah dengan mengikuti aturan-aturan Allah. Tidak ada satupun dari jutaan manusia yang bertawaf tersebut berani untuk bertawaf dengan arah selain dari arah yang ditentukan oleh Allah.

Jutaan manusia mengikuti perintah Allah, mereka menutup aurat ketika berada di Baitullah. Mereka mengikuti titah yang satu, perintah yang satu, menghilangkan ego mereka masing-masing untuk tunduk dan patuh hanya kepada Allah Ta’ala semata.

Realita Kehidupan Kaum Muslimin

Diluar ibadah haji yang mempersatukan kaum muslimin dalam satu komando dari Allah tersebut, sangat kita sayangkan bahwa segala hal yang terjadi tersebut hanya terjadi dalam ibadah haji, ketika mereka berada di Baitullah, Masjidil Haram. Fakta ini seakan-akan menunjukkan bahwa kaum muslimin menganggap bahwa Allah yang maha besar hanya berada dan menyaksikan mereka di Masjidil Haram.

Sesungguhnya Allah ta’ala maha melihat dan memperhatikan setiap yang kita perbuat, tidak hanya di dalam masjidil haram akan tetapi disetiap kegiatan kita dalam kehidupan. Allah menuntut kita untuk menjalankan syariat dan apapun yang telah ia perintahkan dalam kehidupan.

Jika dalam ibadah haji kita merasa diawasi oleh Allah dan takut kepadaya, maka seharusnya dalam setiap nafas kehidupan kita seharusnya merasakan hal yang demikian juga. Disinilah letak esensi ibadah haji, agar kita dalam setiap sendi kehidupan senantiasa merasa diawasi, merasa takut, tunduk patuh kepadanya tidak hanya ketika berada dalam masjidil haram atau baitullah, tapi dalam setiap sendi kehidupan kita.

Persatuan dalam Ibadah Ritual Semata

Akan tatapi yang kita sayangkan bahwa persatuan kaum muslimin dalam inadah haji hanya berupa bentuk persatuan ibadah ritual semata. Dalam kehidupan kita tidak melihat adanya persatuan kaum muslimin dalam hal Akidah maupun Politik. Padahal dua hal ini sangat penting untuk menjaga persatuan kaum muslimin dalam ibadah ritual maupun agar mereka senatiasa melaksanakan syariat Islam.

Kita melihat bahwa persatuan kaum muslimin yang terjadi di baitullah dapat mendatangkan banyak sekali mashlahat atau manfaat, bukankah akan lebih banyak lagi manfaat yang akan datang jika persatuan tersebut terwujud dalam persatuan dunia?