Dapatkan informasi terkait COVID-19

Mengenal Herd Immunity : Pengertian dan Resiko yang Ditimbulkan

Solusi atau Alternatif Terburuk
apa itu herd immunity?

Istilah Herd Immunity menjadi popular tatkala dunia ‘kelabakan’ di serang pandemi Covid-19.  Istilah ini menjadi popular saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa Herd Immunity adalah dasar pengambilan keputusan pemerintah terkait penanganan Covid-19. Seperti yang dilansir dari Guardian.

Herd Immunity secara istilah berarti kekebalan kelompok terhadap suatu virus. Kekebalan yang terbentuk dalam suatu kelompok ini didasari dari suatu fakta bahwa tubuh manusia akan membentuk imun/antibody Ketika terjangkiti suatu virus. Ketika antibody alami ini terbentuk, manusia tersebut akan kebal terhadap virus.

Nah Herd Immunity akan terbentuk tatkala sudah banyak manusia yang terjangkiti virus. Dalam konteks sekarang, sekawanan manusia akan kebal terhadap virus ini jika mayoritas masyarakat sudah terjangkiti virus.

Februari adalah masa-masa awal Covid-19 mewabah di Inggris. kebijakan terkait penanganan Covid-19 di Inggris dibuat atas dasar paradigma Herd Immunity. Bahasan Social Distansing dan Lockdown pun ditunda, sehingga membuat para akademisi dan professor dari Universitas Terkemuka Inggris melakukan petisi online untuk menolak kebijakan Herd Immunity dan menekan agar pemerintah segera bertindak.

Berkaca dari Inggris, penerapan Herd Immunity tanpa pengkajian yang lebih mendalam, membuat penanganan Covid-19 terkesan lambat, Social Distancing dan karantina wilayah telat dilakukan. karena per-awal mei, Inggris menjadi negara di benua eropa dengan tingkat kematian tertinggi akibat Covid-19.

pada akhirnya Inggris menerapkan Social Distancing dan karantina wilayah

Inggris sebagai negara pertama yang menjadi inisiator Herd Immunity telah melakukan peninjauan terhadap kebijakannya diawal dan mempertimbangkan masukan dari para ilmuwan dan akademisi. Walaupun dinilai lambat, Inggris telah melakukan karantina wilayah dan menerapkan Social Distancing di wilayahnya.

Resiko Penerapan Herd Immunity

potret penguburan massal pasien wafat akibat Covid 19 di New York (sumber : bbc.com)

Dari fakta diatas bisa disimpulkan apa itu Herd Immunity dan (mungkin) terbayang bagaimana bahayanya jika diterapkan di wilayah minim fasilitas Kesehatan yang mumpuni, seperti Indonesia. gambaran lain tentang Herd Immunity agar pembaca dapat membayangkan resikonya adalah berikut ini:

  1. Herd Immunity membutuhkan mayoritas masyarakat yang terinfeksi Covid-19

    Para ahli di Universitas Terkemuka Inggris, mengatakan bahwa setidaknya butuh 70% masyarakat di Inggris yang harus terinfeksi Covid-19 agar terbentuk imun atau antibody alami. Seperti yang dilansir dari theconversation.com

    Kita misalkan dengan Indoensia, Jika diterapkan Herd Immunity maka kita ambil jumlah 60% populasi masyarakat untuk membentuk antibody atau imun alami.

    Jika populasi keseluruhan masyarakat Indonesia berjumlah 270 Juta manusia, maka untuk terbentuk Herd Immunity setidaknya butuh 60% x 270 juta = 162 juta. Artinya sebanyak 160 juta manusia di Indonesia harus terinfeksi virus ini agar terbentuk kekebalan kelompok.

    Jika dikaitkan dengan tingkat kematian pasien Covid-19 di Indonesia yang berada diangka 8.36 persen (detik.com), maka 162 juta x 8% = 12.960.000. maka setidaknya ada 12 juta manusia yang harus mati di Indonesia agar konsep Herd Immunity ini berhasil diterapkan. 12 juta adalah angka yang fantastis bukan? Terutama untuk orang yang punya rasa kemanusiaan.
  1. Virus Covid-19 mempunyai kemungkinan untuk bermutasi menjadi lebih ganas

    Dikutip dari situs theguardian.com yang mengutip perkataan Former Director of the World Health Organization (WHO) Program Kanker, Karol Sikora. Ia mengatakan bahwa setiap virus memiliki kemungkinan untuk bermutasi tak terkecuali SARS-Cov-2 atau biasa disebut Covid-19.

    Para ilmuwan telah menganalisis sebanyak 13.000 sampel di Inggris dan menemukan bahwa mutase baru Covid-19 terjadi dalam sebulan sebanyak 2 kali. Jika perkembangan virus sangat cepat, maka pembuatan vaksin akan sia-sia. Hal ini dikarenakan setiap virus bermutasi, maka setidaknya butuh vaksin yang berbeda pula.

    Setiap mutase virus terjadi, maka perilaku virus Ketika menginfeksi manusia juga akan berbeda. Karena itulah Ketika Herd Immunity diterapkan disaat vaksin Covid-19 belum ditemukan, antibody manusia yang sudah terbentuk akan menyesuaikan lagi Ketika manusia tersebut Kembali terinfeksi.
  1. Beberapa kasus menunjukkan, manusia dapat terinfeksi Covid-19 lebih dari 2 kali.

    Ketika karantina wilayah diterapkan di Wuhan, pertambahan kasus Positif Covid-19 tidak bertambah alias nol kasus. Namun surat kabar South China Morning Post dalam penelitiannya menyebut, 10% pasien sembuh yang diperbolehkan pulang kerumah dinyatakan positif Kembali.

    Laporan ini menunjukkan bahwa belum ada kepastian apakah seseorang yang sudah pernah terjangkiti Covid-19 dapat tertular Kembali atau tidak.

Jika Herd Immunity Diterapkan di Indonesia

Walaupun Pemda Bogor telah memperpanjang masa PSBB, suasana di pasar tetap ramai dan padat

Mentri Kesehatan Terawan pernah mengatakan bahwa Corona adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. sebagaimana flu biasa, Covid-19 dapat sembuh dengan sendirinya.

Perkataan menteri ini sejalan dengan ide Herd Immunity. Virus corona adalah penyakit yang dapat diatasi dengan antibody yang dibentuk oleh tubuh manusia itu sendiri. dalam hal ini, Herd Immunity menekankan pada kekebalam oleh antibody atau imun suatu kelompok atau masyarakat.

Presiden Joko Widodo juga mengatakan bahwa masyarakat harus hidup berdamai dengan Corona. Istilah beliau lebih sering multitafsir jika dimaknai sendiri, seperti istilah mudik vs pulang kampung. Namun rencana kebijakan pemerintah seperti membolehkan masyarakat umur 45 tahun kebawah untuk boleh Kembali bekerja sangat lekat dekat konsep Herd Immunity.

Indonesia harus berkaca pada diri sendiri. dengan tingkat kematian tertinggi akibat covid-19 di Asia Tenggara dan penyebaran yang tinggi, ditambah lagi fasilitas Kesehatan dan kapasitas rumah sakit yang kewalahan dengan pasien yang membludak, harus membuat pemerintah bekerja lebih maksimal dalam penanganan Covid-19 dengan paradigma Karantina wilayah dan pemaksimalan PSBB.

Hal ini bukannya mustahil jika berkaca pada Vietnam dan Kamboja yang telah berhasil menangani Covid di wilayahnya yang hingga kini zero kasus tanpa perkembangan.

Salam hangat!
#StaySafe

admin
pemalas dan buruk dalam pertemanan, menjadi penulis adalah mimpi sehari-hari