Dapatkan informasi terkait COVID-19

Melampaui Manusia Demokratik

Penguasa maupun rakyatnya harus mempunyai kepribadian demokratik
manusia demokrasi
sumber gambar : norwayiodhr.no/democracy.

Saya pertama kali menemukan istilah “Manusia Demokratik” di esai Kuntowijoyo yang berjudul “Menuju Tranformasi Demokratik”. Disana beliau mengawali uraiannya mengenai makna dari manusia demokratik dengan mengutip pernyataan Notonegoro, yang menyebut bahwa manusia adalah makhluk monodualistik.

Makhluk ini bermakna bahwa manusia itu adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Dalam kata lain, manusia adalah makhluk yang total.  Dia tidak condong kepada sifat individualistik dan tidak condong pula kepada sifat sosial.

Dalam sejarah bangsa kita, harus diakui bahwa sistem sosial kita pernah membagi manusia kedalam strata sosial yang polaristik. Dulu pernah ada istilah golongan kawula dan juga golongan gusti. Dikotomi golongan ini menghambat cita-cita terbentuknya manusia yang merdeka seutuhnya sebagai seorang warga negara yang memiliki hak-hak dan tanggung jawabnya masing-masing.

Hak dan kewajiban ini tidak hanya berimplikasi kepada warga negara saja, tetapi juga kepada pemegang kekuasaan. Seorang warga negara memiliki hak dan tanggungjawab atas penguasa, dan penguasa memilki hak dan tanggungjawab atas warga negaranya.

Pemegang kekuasaan memiliki tanggungjawab untuk memenuhi hak warga negaranya dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan dan perlindungan. Begitu juga warga negara memiliki tanggungjawab untuk memberi kepercayaan kepada penguasa agar tercapai stabilitas politik dinegara tersebut. Jadi ada semacam hubungan timbal balik diantara pihak penguasa dan pihak warga negara agar tercapai suatu alam yang demokratik.

Dalam alam demokrasi, stabilitas politik ini akan terwujud manakala adanya legitimasi dari warga negara berupa kepercayaan kepada penguasa yang dipilih melalui pemilihan umum. Legitimasi warga negara ini menjadi penting karena di masa lalu kita memiliki sejarah raja-raja yang kekuasaannya hanya didasarkan kepada kesaktian, keabsahan genealogis, dan pemilikan alat-alat upacara.

Jika hal ini terjadi lagi, maka tidak menutup kemungkinan kita akan kembali ke alam patrimonial. Oleh karena itu, menjadi keharusan didalam negara demokratis itu, baik penguasanya maupun rakyatnya harus mempunyai kepribadian demokratik.

Lebih lanjut lagi, Kuntowijoyo memaknai manusia demokratik sebagai manusia yang memiliki kesediaan untuk menerima perbedaan pendapat dan kepentingan, memahami hak dan tanggung jawab, mengerti pentingnya ketertiban dan kemerdekaan, tidak hanya harus berlaku dalam tingkat individual, tetapi juga dalam tingkat sosial.

Jati diri manusia demokratik dalam pandangan Kuntowijoyo itu diwujudkan melalui pendidikan politik dengan menekankan mobilisasi seluruh simbol nasional, seperti sejarah, seni, sastra, bahasa dan pertukaran pemikiran melalui mimbar bebas yang akan menumbuhkan kepribadian demokratik, atau pribadi yang merdeka seutuhnya dalam diri seseorang.

Setelah membaca tulisan-tulisan SMN al-Attas mengenai pendidikan islam, saya menemukan alternatif untuk membentuk manusia yang memiliki kepribadian demokratik atau merdeka seutuhnya. Bahkan bisa melampaui kepribadian manusia demokratik dalam pandangan Kuntowijoyo.

Pendidikan Islam

Dalam pandangan al-Attas, tujuan pendidikan islam tidak lain adalah untuk membentuk manusia yang baik. Penekanan pendidikannya adalah nilai-nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai warga kota, sebagai warga negara dalam kerajaan yang mikro, sebagai sesuatu yang bersifat spiritual. Nilai manusia yang mencakup kebaikan secara menyeluh, baik lahiriah maupun batiniah.

Ketika manusia dalam pendidikan dibentuk menjadi manusia yang baik, maka dia secara otomatis akan menjadi manusia demokratik, sebagaimana yang diuraikan oleh Kuntowijoyo tadi. Karena manusia yang baik akan berupaya untuk menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia, bukan saja sebatas menunaikan tanggungjawabnya sebagai warga negara, melainkan juga untuk menunaikan kewajibannya sebagai manusia sejati.

Kemerdekaan juga akan dicapai secara utuh, sebab posisi manusia berada dalam strata yang sama sebagai Hamba Allah. Dan yang membedakan derajatnya adalah ketaqwaan kepada Allah, bukan hal yang bersifat duniawi seperti kekuasaan dan kekayaan yang berada ditangan manusia.

Dia juga akan menjadi manusia yang dapat menerima perbedaan pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena pendidikan islam juga berupaya untuk menciptakan manusia yang beradab dalam pengertian yang komprehensif, yakni setiap tindakannya akan ditempatkan secara benar dan tepat, tidak ektrim dan tidak terlalu longgar.

Pada akhirnya, transformasi manusia menuju manusia demokratik dalam pandangan Kuntowijoyo akan dapat diwujudkan melalui pendidikan ala islam sebagaimana yang dikemukan oleh SMN al-Attas dalam beberapa tulisannya. Wallahu’Alam.

Penulis dan Editor: Rino Irlandi

Rino Irlandi
Mahasiswa S1 Ilmu Hukum dengan konsentrasi Hukum Tata Negara. Saat ini nyibuk di dunia anak muda dan mencoba mengembangkan perpustakan pribadi.