[Book Review] Si Anak Cahaya : Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya

5 Likes Comment

Judul Buku : Si Anak Cahaya
Penulis : Tere Liye
Co-author : Sarippudin
Halaman : 417
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan : I, Desember 2018
ISBN : 978-602-5734-54-0

Sebelum memantapkan hati untuk membaca buku yang satu ini saya berpikir atas dasar dan keuntungan apa yang saya dapat jika membaca buku ini, banyak sekali buku-buku apalagi novel yang ‘berserakan’ di gramedia dari berbagai genre, dan tentu saja dari urutan penting dan tidak penting untuk dibaca. Mudah saja untuk menentukan bacaan yang terkategori penting ; tanyakan kepada diri sendiri, dengan membeli buku ini apakah bisa memberikan manfaat atau tidak kepada diri sendiri

Buku ini merupakan lanjutan dari Serial Anak Mamak yang terdiri dari empat novel dengan masing-masing kisah dari empat anak luar biasa yang menyimpan cerita tersendiri. Mereka adalah Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia yang merupakan saudara kandung, karena itulah tidak absah rasanya jika tidak membaca salah satu dari empat novel tersebut karena masing-masing cerita memiliki keterkaitan sendiri. Bedanya adalah sudut pandang masing-masing novel adalah dari orang pertama atau tokoh utamanya sendiri.

Sebelum membaca Si Anak Cahaya saya sudah membaca empat novel sebelumnya, karena itu dengan modal penasaran saya membaca buku ini dengan harapan menemukan jawaban ‘anak siapa yang dibahas dalam novel ini? bukannya amelia anak terakhir? Apakah mereka punya adik baru?’ dengan modal penasaran membuat saya berani merogoh kocek untuk membeli novel ini, dan pertanyaan tersebut terjawab ketika saya selesai membaca bab akhirnya. Jawaban sulit untuk ditebak.


Sinopsis

“Nama kau Nurmas, itu nama yang indah sekali. Nur itu cahaya, mas atau ema situ logam mulia yang berharga. Aku harap, suatu saat cahaya dan kemuliaan kau akan menyatu, berkilauan”

Buku ini tentang Nurmas, si anak cahaya yang memiliki petualangan masa kecil yang penuh keceriaan dan menakjubkan. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Nurmas hingga penduduk seluruh kampung selalu mengingat kejadian yang membuatnya resmi dipanggil si anak cahaya?

Dari puluhan buku Tere Liye, serial buku ini adalah mahkotanya.


Buku ini merupakan buku kelima dari serial anak mamak yang ditulis oleh bang Tere Liye, yang menceritakan seorang anak perempuan bernama Nurmas (awalnya saya ragu cowok) dengan kehidupannya di sebuah kampung yang jauh dari dari kota. di kampung inilah kehidupannya bersama teman-temannya serta seluruh penduduk kampung di ceritakan, walaupun ada cerita yang berlatarkan kota. 

Nurmas adalah anak perempuan yang lahir dari pasangan Yahid dan Qaf. Nurmas sendiri biasa dipanggil Nung oleh orang sekitarnya. itu adalah nama panggilannya. Tetapi lain lagi dengan orang tuanya, jika nama lengkapnya telah disebut, artinya itu serius sekali. Titah orang tuanya harus segera dilaksanakan. Ia mempunya tiga teman yang sangat seru yaitu, Jamilah, Siti dan Rukayah. Mereka inilah yang mewarnai keseruan kisah hidup si Nung di kampung. Mereka inilah teman yang sangat menyenangkan tapi disisi lain juga menyebalkan, mereka suka menjodoh-jodohkan Nung dengan Badrun S, orang yang paling menyebalkan seantero kampung.

Badrun S adalah senior kelas 6 sedangkan Nung kelas 5, Badrun suka mencela Nung dengan panggilan anak sok-sok (sok pinter, sok hebat dsb). Uniknya disini tidak ada satupun yang tau nama lengkap Badrun “S”. karena itulah teman-teman nung suka jahil mengganti “S” itu dengan sebutan Si Susah. Tapi dibelakang Badrun, Mereka suka sekali menjodoh-jodohkan Nung dengan Badrun hingga membuat mereka ditimpuk kulit jengkol. Uppss (Gerakan menghindar)

Banyak tokoh unik yang menghiasi kekocakan dalam novel ini. sebut saja kisah saat Nung dan teman-temannya diangkat menjadi murid oleh Nek Beriah yang seorang dukun beranak. Nung, Jamilah, Rukayah dan Siti mati-matian belajar menjadi dukun beranak yang baik, memperagakan bagaimana menolong seorang ibu yang akan melahirkan. ternyata menjadi dukun beranak sangat sulit sekali, mereka gagal total menjadi penerus Nek Beriah.

Bagian cerita yang berhubungan langsung dengan judul novel ini berada di Bab terakhir. Ketika ‘Musuh masa lalu’ orang tua nung kembali. Novel ini mengambil latar belakang waktu tahun 1950. Orang tua Nung yakni Yahid dan Qaf memiliki kisah tersendiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Bukan main, Keduanya adalah pemuda-pemudi aktivis yang dulunya berbeda paham atau ideologi. Bisa dibilang keduanya berasal dari perkumpulan yang bermusuhan. Yahid walaupun lahir ditengah keluarga yang agamis, saat menginjak usia dewasa menjadi pentolan ekstrim kiri di kota provinsi (komunis). Sedangkan Qaf adalah pemudi yang berada di perkumpulan pemuda yang sering dibilang ‘sok alim’.

Pertemuan pertama dengan Qaf memberi banyak makna bagi Yahid, hingga keduanya menikah dan Yahid dicap sebagai penghianat oleh rekan sejawatnya sendiri yakni Dulikas. Puluhan tahun Dulikas di penjara karena pemberontakan komunis yang gagal sehingga merenggut nyawa putrinya, selama itu pula ia menyimpan dendam kesumat kepada Yahid yang ia persalahkan karena semua hal. Tahun 1950-an saat krisis ekonomi menimpa negeri yang baru seumur jagung merdeka, dimanfaatkan oleh Partai Komunis untuk menyebar propaganda. Termasuk bagi Dulikas yang menyimpan dendam, momen ini peluang besar baginya untuk membayar tuntas dendamnya. Dulikas mencari Yahid.

Saat itulah Nung menyelamatkan penduduk kampung. Banyak momen haru di bagian cerita ini, terlalu singkat jika ditulis disini (jadi baca novelnya langsung aja ya😁). disaat harapan seakan sudah sirna bagi penduduk kampung yang dihantam kejahatan Partai Komunis, Nung datang dengan disiram oleh cahaya lampu truk, tentu saja bagi penduduk kampung itulah adalah momen yang indah. Anak spesial datang membawa pertolongan.

Sampai disini saya kurang setuju dengan bagian ini, tentu Title Si Anak Cahaya mengacu kepada tingkah laku Nung itu sendiri kepada penduduk kampung, sikapnya kepada teman-temannya. Bukan dari cahaya truk (😂). Ketika Yahid bapak Nung sakit parah dan saat itu, Datuk Sunyan si dukun yang tersohor kehebatannya sampai keseluruh lembah memaksa untuk mengobati penyakit Yahid. Qaf saat itu dengan tegas menolak kedatangan datuk sunyan. ketika Datuk Sunyan memaksa, Nung dengan berani menentang Dukun yang terkenal kesaktiannya demi perasaan tak rela melihat mamaknya terdesak oleh datuk sunyan.

Dan di akhir epilog akan diungkap siapa sebenarnya Nurmas atau Nung ini. sebutan Si Anak Cahaya seakan menurun pada anak-anaknya yang mengisi cerita dalam keempat novel sebelumnya, yupp betul sekali. Nung adalah ibu dari Eliana si Anak pemberani, Pukat si Anak Pintar, Burlian Si Anak Spesial dan Amelia Si Anak Kuat. Novel ini ternyata menceritakan bagaimana sosok ibu dengan kisah masa kecil yang luar biasa. Seperti kata pepatah Buah jatuh tidak jauh dari pohannya.

Sebagai upaya untuk membangun sumberdaya manusia yang berkualitas, buku seperti ini rasanya wajib dibaca oleh setiap anak-anak yang sedang beranjak remaja. Walaupun bukan remaja lagi, saya tetap menikmati buku ini dan merasa puas. Setidaknya setiap bab cerita tidak ada yang sia-sia, setiap bab menyiratkan pelajaran hidup yang ditarik dari hal-hal sepele dalam hidup. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Tere Liye lihai sekali membuat kejadian-kejadian sepele dalam hidup menjadi kisah yang luar biasa, dan terkadang disanalah kita merasa hal sepele tersebut ternyata adalah hal sangat penting.

Kisah teladan tidak boleh luput dari masa hidup manusia, terutama pada anak-anak. membaca setiap bab dalam novel ini membuat memori masa kanak-kanak saya kembali teringat. Saya pernah ingat jika kisah-kisah teladan seperti ini pernah diceritakan dengan bentuk yang berbeda dan dengan mengingat itu saya bisa merenungi dengan baik hidup saya yang sekarang. 5 Novel serial anak mamak memang cocok untuk melihat sepintas masa kecil sederhana yang indah, dan mungkin juga yang kita inginkan.

Ini adalah beberapa Quote yang saya kuti dari Novel Si Anak Cahaya

Bagaimana dia bisa mengembangkan kalimat yang tertulis di kertas, Kalau menguasai dirinya sendiri saja tidak bisa?

Nung ( Halaman 90 )

oi, hanya ada dua alasan yang menyebabkan seseorang emutuskan untuk pergi. Pertama karena rasa cinta yang sedemikian besar, yang kedua karena rasa benci yang juga sedemikian besar

Halaman 110

ketika kata-kata sudah tidak sanggup mewujudkan cita-cita perjuangan, sudah saatnya dua tangan kita yang melakukannya

Halaman 110

Mengapa kami membantumu? Itu pertanyaan yang susah dijawab untuk orang yang tidak percaya pada tuhan seperti kau. Sebaliknya akan mudah sekali dijawab bagi kami yang kalian sebut sok alim

Halaman 116

Cukup percaya bahwa dengan membantu orang lain sejatinya adalah membantu diri sendiri, maka itu alasan kuat untuk tidak membiarkan kau tergeletak menghadapi pilihan, tewas kehabisan darah atau ditangkap serdadu Belanda

Halaman 116

itulah pentingnya kita selalu mau saling mengingatkan, saling menasihati, Nung. Sekali kita merasa benar, lantas menuduh orang lain bodoh, maka perlahan kita bisa berada di titik yang sangat berlebihan, kita mulai memaksakan kehendak dan melakukan kekerasan

Hal 123

saat kita tidak paham dan menolaknya, kita akan membenci tanpa alasan

Hal 124

menjadi kuli pasar misalnya, itu bukan pekerjaan hina. Ini juga pekerjaan mulia. Jangan keliru melihatnya. Sungguh jangan. Saat kau menyaksikan mamak kau cemong oleh kotoran kerbau, itulah bukti betapa besar kasih sayangnya pada kau

hal 299

karena kami sudah punya Allah, Datuk”

Jamilah Binti Barjan ( Halaman 333 )

“kau akan kalah. Dulu, sekarang, hingga kapan pun, kau akan kalah. Akan selalu ada pertolongan bagi orang-orang yang dianiaya”

Halaman 407

You might like

About the Author: robin

pemalas dan buruk dalam pertemanan, menjadi penulis adalah mimpi sehari-hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *