Review Novel I Saw the Same Dream Again Karya Sumino Yoru

3 Likes Comment
Novel i saw the same dream again

I Saw The Same Dream Again adalah novel terjemahan pertama yang saya baca. Sebelumnya koleksi novel yang saya punya didominasi oleh karya Tere Liye. Sejak duduk di bangku SMP saya sudah tertarik dengan nama Tere Liye ketika membaca Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin. Kemudian setelah itu lanjut dengan novel lainnya yang beliau tulis. Saya pikir tidak salah jika membaca novel terjemahan, jujur saja ada alasan kenapa saya agak ragu ketika hendak membeli novel terjemah, mungkin di paragraf selanjutnya nanti akan saya bahas. Yang pasti faktor anime tidak bisa dipungkiri, seringkali cerita yang dibuat oleh orang jepang (dalam anime) memiliki ciri khasnya sendiri yang tidak dimiliki oleh budaya lain.

Informasi Buku

  • Judul : I Saw The Same Dream Again
  • Judul Asli : Mata, Onaji Yume O Miteita
  • Penulis : Yoru Sumino
  • Penerjemah : Clara Canceriana
  • Cetakan : Pertama, Desember 2018
  • Penerbit : Haru
  • Penerbit Asal : Futabasha Publishers Ltd., Tokyo
  • ISBN : 978-602-52547-8-9

Sinopsis

Koyanagi Nanoka adalah seorang pelajar SD yang menganggap dirinya sendiri pintar. Dia mendapatkan tugas untuk memikirkan ap aitu kebahagiaan.

Selama memikirkan tugas tersebut bersama dengan teman sekelasnya, dia bertemu dengan pelajar SMA yang suka menyayat nadinya, seorang wanita yang terjebak dalam hidupnya sendiri, dan seorang nenek yang tampaknya hidup damai. Semuanya memiliki penyesalan masing-masing.

Apakah kebahagiaan itu?

Bisakah mereka memperbaiki masa lalu?


Selama ini kata ‘Bahagia’ selalu lewat dalam lintas kehidupan kita. Ibarat perasaan marah dan sedih, kita hanya mengikuti apa yang dirasakan oleh hati ketika merespon sesuatu, termasuk perasaan Bahagia. Karena itulah perasaan manusia, sungguh sebuah misteri. kita tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh orang lain, sampai kita benar-benar memahami orang tersebut. Sering sekali kita merasa sudah memahami perasaan orang lain, dan yang ternyata tindakan itu malah menyakitinya. Atau bahkan kita bahkan tidak tahu apa yang sebanarnya kita inginkan? Apa yang terbaik untuk kita dan yang lebih penting, membuat kita Bahagia?

Hal ini sebenarnya dimuat dalam kisah epik dan penuh emosional dalam novel yang judulnya berarti ‘aku melihat mimpi yang sama’ ini. Seorang anak perempuan bernama Koyanagi Nanoka dikisahkan sebagai anak SD yang mempunyai teman hitam yang ekornya putus, Minami-san, Nenek dan seorang yang dia sebut ‘abazure-san’. Mereka adalah tokoh yang mempunyai posisi sentral dalam cerita ini. dalam kesehariannya, Nanoka dan si hitam yang ekornya putus lebih mirip karakter ‘kiki dan jiji’ dalam anime Kiki’s Delivery Service, seperti kata Abazure-san. tapi Nanoka membantahnya, karena Kiki memiliki sihir sedangkan dirinya tidak, karena itu karakter dia lebih mirip Charlie dan Snoopy.

Koyanagi Nanoka adalah anak SD yang menganggap dirinya pintar. Sebenarnya ini bukan berarti dia menganggap orang lain Bodoh. Hanya saja orang yang suka merundung (dalam kisah ini) dia sebut sebagai orang yang bodoh. Kalimat favorit dia “hidup itu seperti …..” yang kalo menurut saya kalimat ini menjadi humor tersendiri dalam novel ini. setiap Nanoka hendak mengatakannya, jawabannya lebih banyak tidak bisa diduga. Contohnya ;

“aku pun rasanya tidak akan menikah meski sudah dewasa. Lagipula hidup itu seperti tempat tidur”

“apa artinya?”

“Kalau hanya untuk tidur, single pun cukup”

Lelucon seperti diatas cukup membuat diri ini cengengesan sendiri. Humor yang cerdas.

walaupun begitu, Nanoka bukanlah anak nakal yang menganggap orang lain berada di level berbeda dengan dirinya. Dia sebenarnya sangat peduli, hanya saja karena kepintarannya, satu dan lain hal, ia dijauhi oleh teman-teman sekelasnya. Hanya dua orang yang mau diajaknya berbicara, satu adalah Kiryu-kun dan Ogiwara-kun. Ogiwara adalah orang yang populer di sekolah, ia bersikap baik kepada setiap orang. Sedangkan Kiryu-kun adalah kebalikannya, dia adalah anak yang sering dirundung (bully) dan lebih parahnya, dalam banyak hal ia tidak melakukan perlawanan.

Di sekolah ada Hitomi-sensei yang sangat baik. Nanoka tau itu karena ia dapat merasakan ketulusan dari senyuman Hitomi-sensei, tidak ada kebohongan disana. Walalupun Nanoka sering berpikir apa yang dikatakan sensei terkadang tidak masuk akal. Sensei ingin Nanoka Bahagia dan bisa akrab dengan teman-teman sekelasnya, dan saat dia ditanya “Bahagia yang tadi sensei katakana seperti apa?”. Sensei pun memberi suatu rahasia, bahwa kelas esok hari akan memikirkan tentang kebahagiaan itu.

Saat Hitomi-Sensei memberikan tugas mencari apa itu kebahagiaan. Saat itulah kisah ini dimulai. Iya, novel ini bercerita bagaimana kisah seorang anak SD mengajari kita arti Bahagia yang amat mendalam (yang jarang disadari banyak orang). Waktu untuk mencari jawaban tugas ini cukup lama hingga hari presentasi tiba, jadilah Nanoka berpasangan dengan Kiryu-kun yang pemalu, gugup dan selalu menunduk. Nanoka yang sifatnya keras bagai karang sungguh merupakan kebalikan dari sifat pasangannya itu.

baca juga : review novel si anak cahaya

Setiap hari saat pulang sekolah Nanoka selalu mengunjungi satu persatu temannya. Abazure-san, nenek dan Mimoka-san adalah target kunjungannya setiap hari. Bersama dengan si hitam tanpa ekor ia mendatangi mereka sembari menanyakan tentang kebahagiaan itu seperti apa. Inilah yang dilakukan Nanoka setiap pulang sekolah, bukan hanya untuk mengusir kebosanan selepas sekolah, tapi juga karena dia sebenarnya tidak mempunyai teman yang benar-benar teman disekolah. Ia sungguh merasa cukup dengan ketiga orang yang dianggapnya teman ini.

Mimoka-san adalah anak SMA yang sering melukai dirinya sendiri, Nenek walaupun terlihat damai, tetapi memiliki banyak sekali penyesalan sedangkan Abazure-san adalah penjual musim. Abazure adalah sebutan untuk wanita genit dan penjual musim adalah sebutan untuk wanita tunasusila. Ada perasaan geli ketika melihat Nanoka yang pintar bahkan masih terlalu polos untuk mengetahui ini 😆

Jadi, seandainya, ada penyihir yang bisa mengubahmu menjadi siapa saja, pastikan kau tetap memilih menjadi dirimu sendiri. Paham? -Koyanagi Nanoka Click To Tweet

Kehidupan sekolah yang penuh perundungan, walaupun begitu dari mereka inilah Nanoka mendapat semangat dan dukungan. Terlebih ada Hitomi-Sensei yang selalu tersenyum tulus penuh arti. Nanoka tetap berangkat sekolah walaupun merasa sekolah adalah tempat membosankan. Berbeda dengan Kiryu-kun, ia adalah korban bulling yang bahkan ‘tidak sanggup’ untuk melawan. Dari sinila jalan menuju klimaks cerita dimulai. Bagaimana Nanoka disamping mencari arti kebahagian, juga berusaha menjadi teman dan membantu kiryu agar sedikit melawan. jalan menuju kesana sungguh mengguncang sisi emosionalitas. Kebahagiaan itu sungguh misteri

Penulis Sumino Yoru-sensei seperti lihai menceritakan peristiwa yang membuat pembaca merasakan keguncangan emosional. Ia berhasil menghidupkan semua karakter. Walaupun membaca versi terjemahan, perasaan itu masih bisa dirasakan, perundungan adalah tindakan yang sangat disayangkan, bayangkan saja jika pelakunya adalah anak-anak dan korbannya juga anak-anak. Korban perundungan patut dikasihani dan diberi dukungan sebanyak-banyaknya. Perjalanan Nanoka dalam mencari arti kebahagiaan, memberinya jawaban bahwa ada yang salah pada dirinya, Ada yang perlu diperbaiki dari dalam dirinya. Berusaha menjadi teman yang baik dan menolong Kiryu-kun memberinya arti kebahagiaan yang sebenarnya.

Apakah novel ini tentang itu saja? Jawabannya adalah, Mungkin? Tapi jalan cerita menuju kesana sungguh tidak akan disangka-sangka, memberi kesan bahwa bahagia itu misterius sekali, sama dengan misteriusnya Mimoka, Abazure-san dan nenek, siapa mereka sebenarnya? Cerita dari negeri sakura memang sangat menarik.

berikut adalah kutipan favorit saya di I Saw the Same Dream Again

Bertindak spontan adalah hal yang penting. Tetapi , berpikir sebentar dan mencoba menunggu sebelum bertindak juga sama pentingnya. Paham?

Halaman 7

Tidak selamanya melarikan diri dari hal yang tidak menyenangkan itu baik


Tidak semua kata-kata orang hebat atau yang muncul dalam televisi itu benar. Tapi, benar atau tidaknya hal itu, kau sendiri yang harus memikirkannya dengan baik


Hidup itu seperti pudding ya, padahal bagian yang manisnya saja sudah nikmat, tapia da orang yang bersyukur karena rasa pahitnya.


Belajar untuk memahami hal yang belum dimengerti adalah hal yang penting. Sedangkan mengira sudah mengerti hal yang sebenarnya belum dia pahami adalah hal sangat tidak baik


Baca Juga : Kumpulan Pantun Perkenalan ( by Kelas XI & XII SMAN 1 Unggulan Indralaya Utara


Kita tidak bisa terus bersedih. Hidup itu seperti makanan yang disediakan oleh sekolah. Walaupun tidak ada makanan yang disukai, kita harus tetap menikmatinya


Adanya orang yang menjadi lebih tenang ketika memotong nadinya , membuatku berpikir bahwa dunia ini berisi hal-hal yang tidak kuketahui


Alasan aku datang ke tempat Minami-san adalah karena aku sama sekali tidak mengenalmu. Aku ingin lebih tahu banyak soal Minami-san.


Lihat, tidak ada yang bisa melihat hati manusia sepeti sihir. Jadi manusia diberikan kemampuan berpikir. Nona Kecil ingin memahami Minami-san, tapi kau tidak mengerti kenapa ia menyayat nadinya sendiri, itulah mengapa kau harus memikirkannya.


Waktu itu aku pernah berkata kalau hidup itu seperti kambing. Namun, mungkin saja lebih mirip alien. Bukan hanya kebahagiaan atas sebuah cerita, rasa sedih dan putus asa juga bisa membuat perut kenyang.


Bukankah seseorang disebut penulis ketika bisa membuat sebuah dunia baru di hati orang-orang yang membaca ceritanya? Kalau begitu, aku memang belum bisa disebut penulis, tetapi minami-san adalah penulis. Soalnya di dalam hatiku sudah terbentuk sebuah dunia baru yang sangat indah


Aku menyesalinya. Selama ini, aku terus menyesalinya. Mengapa waktu itu aku tidak bisa meminta maaf? Bahkan tidak lagi bisa bertengkar. Aku juga tidak bisa lagi membuat mereka marah. Kami tidak bisa lagi makan malam bersama


Karena itu berjanjilah, tidak bisa hari ini pun tidak apa. Besok pun tidak apa-apa. Yang penting, berjanjilah untuk berdamai dengan orang tuamu. Waktu itu …… tidak akan pernah kembali


Seperti pudding. Cinta masa kecil itu sangat indah karena hanya melihat bagian manisnya saja – dan itu tidak masalah. Semua orang mengerti itu. tetapi, begitu dewasa, kita mulai memahami bahwa di dalam pudding juga ada bagian yang pahit. Meyingkirkan bagian yang pahit itu sebelum menyantapnya, terlihat kenak-kanakan.


Hanya orang yang bisa berusaha sekuat tenaga untuk apa yang sangat disukainya lah yang akan mampu menghasilkan sesuatu yang mengagumkan


Bagaimanapun juga, hidup itu seperti pelari pertama dalam lari estafet. Selama diri sendiri tidak mulai bergerak, ia tidak akan memulai apapun


Diabaikan, adalah sebuah nama perundungan, dan juga merupakan tindakan merundung yang paling bodoh, konyol, di dunia ini.

halaman 193

Ketika sudah dewasa, ia menjadi sososk yang luar biasa pandai. Tetapi hanya itu yang ia punya. Ada saatnya dia sadar bahwa dia tidak memiliki apapun di sekelilingnya. Dia sudah tumbuh menjadi sosok yang semourna, tetapi kemudia dia sadar tidak ada satu pun orang memujinya.

Hal 203

Nona Kecil, jangan pernah berpikir untuk tidak ingin terlibat dengan orang lain, ya. karena terlibat dengan orang lain itulah pertemuan seindah ini bisa terjadi.


Di samping itu, membalas dengan kata-kata tidak selamanya menjadi satu-satunya perlawanan. Bisa jadi yang namanya perlawanan baginya adalah bersabar sambal terus melukis.

Hal 213

bagaimana pendapatmu tentang novel ini? beri tanggapan jika kamu punya sesuatu yang kamu pikirkan!

You might like

About the Author: robin

pemalas dan buruk dalam pertemanan, menjadi penulis adalah mimpi sehari-hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *