Review 1917 Movie : Waktu adalah Musuh

2 Likes Comment

Film yang masih tayang di Indonesia ini membuat saya cukup penasaran. Saya menonton film ini tepat satu hari setelah 1917 mendapatkan perhargaan dari British Academy Film Awards (BAFTA) pada hari minggu tanggal 2 Februari. Karena penasaran saya memberanikan diri untuk membeli tiket nonton, dan tentu saja, sendirian.

Film ini merupakan garapan sutradara terkenal yang pernah menjadi sutradara di film Skyfall. Sejujurnya saya lebih tau Skyfall sebagai lagu dibanding movie nya. Karena yang menyanyikan adalah penyanyi favorite saya, adele. Dengan bakat alaminya sebagai penyanyi yang luar biasa, lagu ini selama berminggu-minggu selalu terngiang di telinga saya. Kayaknya kebangetan kalo kalian nonton 1917 tanpa tau tentang Skyfall ini. Setidaknya dengerin dulu lagunya!

Sekedar informasi, Lagu Skyfall yang ditulis dan dinyanyikan oleh Adele ini mendapatkan Grammy Award pada tahun 2014. Adele memang top kalo masalah lagu. Nah sountracknya aja dapat penghargaan, bagaimana dengan filmnya? Skyfall adalah film bergenre action atau laga yang pernah dinobatkan sebagai film terbaik di London pada tahun 2013. selain itu, pengaruh sutradaranya sendiri yakni Sam Mendes sangat besar dalam mendorong kepopuleran film laga ini.

Dengan sutradara yang sama, film 1917 seakan mendapat tempat tersendiri bagi penggemar film laga terutama fans Skyfall. Penggemar Skyfall bisa menilai bagaimana ‘keepikan’ film yang dilakoni oleh James Bond ini. Sang sutradara adalah orang yang berperan penting membuat film ini begitu epic dari segi sinematografi yang tidak main-main.

Karena itulah yang menjadi alasan kenapa orang datang berbondong-bondong untuk menonton 1917. Keunggulan film ini bukan dari segi cerita dan muatan kisah dalam film, tetapi dari teknik pengambilan gambar syuting yang bisa membuat anda berdecak kagum. Seperti pendahulunya, 1917 tidak berbeda dengan Skyfall dari segi Sinematografi, hanya saja 1917 mengambil tema Perang Dunia ke 1 sehingga membawa suasana yang sangat berbeda.

Menceritakan kisah dua orang tentara yang ditugaskan menyampaikan pesan yang (sangat) penting. Jenderal perang Inggris yang dilakoni oleh Colin Firth memerintahkan agar pesan tersebut disampaikan kepada resimen yang hendak menyerang saat pagi. Karena itulah sebelum penyerangan tersebut dilakukan, kedua tentara ini harus sampai disana terlebih dahulu dan menyampaikan pesan rahasia ini. Sebagai informasi, jika kalian tidak tau Colin Firth coba nonton dulu Kingsman, ini adalah salah satu film action favorit yang saya rekomendasikan.

Dua tentara dengan tokoh sentral yang bernama Schofield dan temannya Blake menerima misi dari sang jendral. Mau tidak mau kan? Karena disisi lain si Blake keuh keuh untuk berangkat ke resimen tersebut sesegera mungkin. Schofield yang berkepala dingin sudah mewanti-wanti jebakan tentara fasis Jerman. Karena jalan menuju resimen yang dituju harus melewati wilayah jarahan tentara Jerman. Jalan menuju kesana penuh rintangan, kesulitan dan kisah haru.

Sebenarnya cerita dalam film ini biasa-biasa saja. Teknik pengambilan film lah yang membuat cerita terasa berbeda. Suasana tegang dan haru akan mengisi waktu 2 jam anda didepan layar bioskop (atau di perangkat mobile). Setidaknya walaupun kurang puas dengan cerita, saya cukup menikmati 1917 dan tidak merasa menyesal karena telah membeli tiketnya 😆

Film 1917 diperani oleh beberapa aktor yang membintangi film-film terkenal seperti Shazam dan Kingsman. Walaupun jatah tampil mereka tidak terlalu banyak (jelas karena bukan main character). Setidaknya dengan tampilnya karakter ini membuat keseruan tersediri, terutama bagi fans mereka.

Walaupun jalan cerita tidak terlalu memuaskan karena tergolong biasa-biasa saja, kalian mungkin tidak menyangka kalua cerita ini adalah cerita asli atau fakta sejarah sebelum melihat akhir film ini sendiri. Kakek Sam Mendes yakni  Alfred Hubert Mendes adalah seorang veteran perang dunia pertama yang menceritakan kisah dalam film ini. Dari cerita si kakek lah Sam Mendes meracik cerita dalam film 1917.

Dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun TV di Inggris, Sam Mendes menceritakan kisah sang kakek saat perang dunia pertama. Walalupun si kakek bertubuh kecil namun ia mampu berlari dengan cepat, karena itulah ia ditugaskan sebagai kurir di front barat. Nah lewat penutup film ini kalian akan tau ternyata kisah ini nyata dan merupakan fakta sejarah. Ada satu hal yang mesti kita ingat dari pengalaman Alfred Mendes; bahwa waktu adalah musuh yang bisa lebih berbahaya daripada perang itu sendiri.

perang bisa jadi adalah hal yang tabu di zaman modern sekarang, tetapi lalai terhadap waktu, tidak disiplin, dan membuat waktu terbuang sia-sia adalah hal yang lumrah dikalangan milenial sekarang. Film ini mengajarkan suatu spirit berharga yakni bagaimana kita bisa menghargai waktu dan menggunakannya sebaik-baiknya, karena pada hakikatnya kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya dalam episode kehidupan kita. Bisa jadi akan ada suatu peristiwa yang membuat hidup kita berubah 180 derajat, dan saat itu karena terlalu banyak membuang-buang waktu, kita tidak siap dan terpinggirkan oleh arus perubahan zaman.

You might like

About the Author: robin

pemalas dan buruk dalam pertemanan, menjadi penulis adalah mimpi sehari-hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *