Dapatkan informasi terkait COVID-19
spot snorkeling yang lebih dalam

Pengalaman 2 Hari Liburan di Lampung : Tempat Apa Saja Yang Wajib Dikunjungi?

Malam itu sunyi seperti malam-malam sebelumnya, malam yang hening. Bedanya malam itu ramai oleh 10 orang manusia yang sedang bersiap-siap seakan-akan hendak menyambut tamu besar. Tamu? Kalau liburan bisa dibilang sebagai tamu, maka tentu saja dia adalah tamu besar yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Apalagi jika tamu tersebut akan membawa kami ke Lampung dengan cara yang tidak biasa.

Di rumah besar -kami menyebutnya asrama- yang menjadi tempat tinggal bagi 10 orang plus 1 yang tergabung dalam penerima manfaat besasiswa IZI, jadilah malam itu masing-masing dari kami sibuk dengan persiapan masing-masing. Sebenarnya liburan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari, tapi karena perjalanan yang akan kami tempuh sangat jauh, ditambah perjalanan ini super special, 2 hari melipir ke Lampung dengan bawaan dan perencaan seadanya alias Backpacker. Jadi persiapan memang harus lebih dari kata siap. Istilah kerennya itu Ready Perfect.

Sebenarnya ini termasuk pengalaman baru bagi saya, terlebih karena kami harus memulai perjalanan malam-malam melalui Tol yang beruntungnya bagi kami bebas dari biaya karena jalan tol Palembang-Lampung sedang dalam masa percobaan. Jadilah jam 10 malam kami berangkat dengan mengerahkan dua pasukan mobil Avanza. Berkumpul sejenak untuk berfoto, berdoa, memastikan semua siap dan tanpa basa-basi langsung berangkat. Walaupun diantara kami tidak ada orang lampung tapi perjalanan ini lebih mirip (sebenarnya)

Rombongan kami berjumlah 12 orang ditambah dengan teman baru merangkap supir yakni kak jek, jadilah malam itu dengan dua Avanza kami meluncur ke Lampung. Perjalanan ke lampung yang bisa memakan waktu seharian bisa diringkas dalam waktu 4 jam melalui jalan Tol. Walaupun tetap saja jalan tol ini tidak bisa menghilangkan keram di bokong karena duduk berjam-jam di mobil. Oh ya lewat jalan tol gratis bukan berarti bensin juga ikut gratis loh. Persiapkan bensin sebanyak-banyaknya karena di Tol tidak disediakan SPBU dan tidak ada yang bersedia berjualan bensin eceran.

Tidak ada yang mengira kalau tengah malam jam 2 ada rombongan mahasiswa dengan mengendarai Avanza mampir ke masjid agung Lampung hanya untuk merebahkan diri dari kepenatan selama di mobil. Malam itu kami menginap di Masjid Al Furqon Bandar Lampung, sebagiannya lagi tidur di mobil. Tak terasa jika posisi kami sudah berada ratusan kilometer dari asrama, gemerlap cahaya kota Lampung dilihat dari masjid ini serasa khidmat. Perjalanan 4 jam tadi diselingi tawa, cerita dan lebih banyak tidurnya membuat saya serasa lupa jika sudah berada di kota orang.

masjid al furqon lbandar lampung
Mengawali awal hari di masjid terbesar di lampung

Walaupun tidur terasa amat singkat, karena dipotong oleh suara mikrofon yang mengeraskan suara murattal. dengan badan yang setengah letih, saya bangkit menuju toilet untuk mandi, kami bersiap untuk menyambut hari ini dengan sholat shubuh di masjid terbesar di Bandar Lampung. Sebentar bergabung dengan kajian ilmu yang diselenggarakan pengurus masjid, karena pukul setengah 6 kami sudah harus bersiap-siap menuju tempat yang harus ditaklukkan, Pulau Pahawang.

Pulau Pahawang : Wisata Bahari Yang Menakjubkan Dari Barat

Keseruan Perjalanan ke Pahawang sedikit banyak sudah saya tulis dalam tulisan saya yang di posting disini Kisah Menuju Keindahan Pahawang yang Membekas di Hati

Dermaga Ketapang di kabupaten Pesawaran adalah start tempat titik tolak kami berlayar. karena Tujuan kami adalah pulau yang posisinya terpisah dari pulau sumatera sehingga banyak yang mesti kami persiapkan di Dermaga ini, Tempat untuk parkir mobil, berkumpul sejenak dengan pemandu wisata dan yang paling penting, mengisi perut jelas tak boleh ditinggalkan. Sarapan pagi di tepi laut jelas memiliki nuansa tersendiri. Laut pagi pesawaran disiram cahaya matahari keemasan, dibentengi oleh pemandangan bukit barisan, membuat sarapan pagi itu serasa bukan hanya mengisi perut tapi juga menentramkan hati.

Teman-teman jangan khawatir untuk keamanan tempat parkir, persediaan kelengkapan alat di laut seperti pelampung dan  kebutuhan lainnya, walaupun Ketapang tempat yang terpencil jauh dari perkotaan, pengelolaan wisata pahawang dari sini sangat profesional. Bahkan pemandu kami datang tepat waktu seperti yang telah disepakati.

Kami berkumpul dengan pemandu, dengan penjelasan yang sedikit serius mengenai keselamatan diatas laut. memang mengerikan jika ada sedikit kesalahan diatas laut, dikarenakan tidak semua dari rombongan kami bisa berenang. Karena itulah pentingnya briefing seperti ini, mendengar arahan pemandu dan berdoa. Ini termasuk persiapan yang penting dan satu lagi yang tak boleh dilupakan, foto sebelum berangkat. Cekret

bersiap menyongsong liburan, Pulau pahawang

Satu hal yang membuat saya fokus diatas perahu, bukit barisan terlihat sangat dekat dengan puncaknya yang berkabut. Seperti namanya, bukit ini berbaris dari ujung ke ujung pulau sumatera. Tetapi tidak semua orang sumatera pernah melihat bukit ini karena lintasannya hanya di tempat tertentu. melihatnya dari dekat ditambah dengan pemandangan laut pagi hari sungguh menyenangkan.

Yap. Pemandangan indah ini tidak seharusnya dilewatkan begitu saja, sebelum kami sibuk dengan pikiran masing-masing, GoPro milik pemandu kami siap mengabadikan momen-momen diatas perahu dengan segala pemandangan yang ada.

Laut pesawaran lampung yang dibentengi bukit barisan
Berlayar menuju pahawang bersama kapten haikal al hafidz

Ketika sampai di tempat tujuan, ternyata spot yang kami tuju adalah tempat snorkeling. Tanpa merasa harus menunggu instruksi beberapa dari kami sudah mengambil posisi untuk terjun ke air. Warna air yang jernih begitu menggoda dan ketika berada disana, disambut dengan pemandangan bawah laut yang begitu menawan.

Pahawang memang cocok disebut wisata bahari, karena Pulau ini menyimpan keindahan laut yang beragam. Kegiatan yang kami lakukan disini adalah mengunjungi Pantai dan tempat snorkeling. Akan tetapi yang istimewa (sangat istimewa), setiap pantai yang kami tuju masing-masing berbeda jenisnya, pemandangan yang disuguhkan disetiap pantai memiliki keindahan tersendiri, begitupun keindahan bawah lautnya ketika kami menyelam.

Puncak Mas : Keindahan Bandar Lampung di Atas Bukit

Kami tidak menghabiskan waktu hingga matahari tumbang di kaki langit, tepat setelah waktu ashar tiba kami memutuskan untuk kembali ke dermaga Ketapang. Karena setelah ini ada tempat eksotis yang kami ingin kunjungi. Puncak Mas.

Puncak Mas ini pasti mainstream sekali di bandar Lampung, pikir saya. Posisinya sendiri berada di pinggiran kota Bandar Lampung. Ketika kami sampai, saya langsung berpikir Puncak Mas ini memang cocok sebagai tempat menenangkan diri dari segala bentuk hiruk pikuk kota. tempat ini mungkin adalah tempat paling tinggi di Bandar Lampung, dan karena posisi nya yang berada di pinggir kota, kalian akan melihat pemandangan seluruh kota lampung dari sini.

Sebenarnya rute perjalanan kesini cukup mudah, melihat Google Maps saja sudah cukup. tapi ada satu hal yang membuat pasukan kami harus melalui rute dua kali lipat jauhnya dari rute normal dengan medan jalan yang dua kali lipat sulitnya.

Kak Adrian sebagai navigator salah input tujuan “Puncak Mas” di Google Maps, yang mana Puncak Mas disitu adalah Perumahan sedangkan yang kami hendak tuju adalah Puncak Mas tempat wisata. Kami sudah curiga saat sekitar kami adalah rumah-rumah berdempetan, jalan juga semakin semakin sempit, bukan lagi aspal melainkan jalan yang dicor oleh semen. Dengan modal Khusnudzan saya beranggapan mungkin ini jalan pintas. Anehnya jalan kemudian semakin sempit dan akhirnya, Jalan buntu. Kami baru sadar Puncak Mas disini adalah perumahan.

Beruntungnya bagi kami, dengan Navigator yang handal dan supir yang profesional keadaan sulit ini berbalik 180 derajat, widih. Daripada berbalik dan mengambil jalan normal, Jalan pintas tetap menjadi pilihan. Jadi walaupun keadaan berubah 180 derajat menuju kepastian rute, 180 derajat yang lain tetap penuh dengan medan yang sulit, jalan penuh lumpur dan bebatuan. Walalupun Tak bisa dipungkiri juga kesulitan seperti inilah yang membuat perjalanan kami berkesan.

Kami tiba persis saat adzan maghrib berkumandang, matahari sempurna tumbang di langit barat. Suasana saat itu gerimis ditambah remang-remang cahaya langit. Puncak mas ini wisata yang cukup mewah karena itu kami merogoh kocek lebih dalam untuk masuk kesini. Tapi semua itu terbayar dengan hamparan pemandangan kota lampung malam hari dari atas puncak ini. Indah sekali.

kami mulai dengan shalat maghrib di mushala yang sangat unik dan anti-mainstream. Ada dua bangunan diatas kantin yang menempel di pohon seperti layaknya rumah pohon. Dan ternyata, itu mushala. satunya tempat khusus pria dan satunya lagi khusus wanita. Tangga menuju keatasnya curam dengan kayu papan yang kecil dan licin karena gerimis. Untuk orang yang takut dengan ketinggian seperti saya, sholat diatas sini adalah “pengalaman sholat” baru. Setiap ada yang naik, mushala sedikit bergoyang. Sangat melatih kekhusyukan.

Puncak mas saat malam menampilkan pemandangan gemerlap cahaya kota lampung
Pemandangan kota lampung di malam hari dan penampakan zaky hafidz 30 juz

Sampai dengan jam 23.00 kami menghabiskan waktu di puncak paling tinggi kota bandar lampung. Ada yang sibuk mengabadikan kenangan dengan berfoto dan saya pun sibuk tertidur habis isya di Mushala yang antimainstream ini. kami kembali ke masjid Agung yang menjadi “mabes” sementara pasukan kecil kami, bersiap-siap dengan rencana liburan hari kedua di Lampung. Kunjungi terus dan ikuti blog ini jika kamu penasaran dengan cerita selanjutnya. Salam.

admin
pemalas dan buruk dalam pertemanan, menjadi penulis adalah mimpi sehari-hari