Ketika Imam Ja’far dan Pembantunya Mengajarkan Semangat Hidup Produktif | Petamilenial

Ketika Imam Ja’far dan Pembantunya Mengajarkan Semangat Hidup Produktif

Terdapat suatu kisah tentang seorang Imam besar yang mencontohkan keteladanan yang luar biasa. Imam Ja’far Ash-Shadiq namanya. Gelar Shadiq dibelakang namanya menunjukkan kemuliaan lisannya yang senantiasa jujur dan terpercaya dalam menyampaikan hadits. Selain itu karena nasab beliau bersambung kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Suatu ketika ketika Imam Ja’far sedang bersama pembantunya yang sedang menyiapkan air minum untuk tuannya. Diluar kehendak si pembantu, air yang disiapkannya malah tumpah mengenai pakaian Imam Ja’far sehingga basah. Sang imam melihat pembantunya dengan tatapan kurang senang.

Melihat respon Imam Ja’far ýang kurang bersahabat. Sang pembantu segera membaca potongan surah Al Imran ayat 134 yang berbunyi “dan orang-orang yang menahan amarahnya” Imam Ja’far pun menjawab “aku telah menahan amarah ku kepada mu”.

Setelah itu, si pembantu membaca lanjutan ayatnya “dan orang-orang yang memaafkan manusia” Imam Ja’far menjawabnya “aku telah memaafkan kesalahan mu”. tak sampai disini si pembantu kemudian membaca lanjutan ayatnya;

“Wa ALLahu yuhibbu al-muhsinin” yang artinya sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Setelah genap ayat 134 dari surah Al-Imran ini dibacakan si pembantu, Imam Ja’far berkata “Pergilah, sekarang engkau telah bebas dari tugas mu karena Allah, dan untuk mu kuberikan harta seribu dinar”.

Kisah tersebut diceritakan oleh Ibnu Al Jauzi dalam kitabnya Bahr Ad-Dumu’ dan dibahas dalam kajian-kajian islam. Kisah ini menjadi teladan bagi generasi mendatang tentang pentingnya bersegera untuk melaksanakan perintah syariat agama dalam berbagai keadaan, baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam keadaan sempit maupun luang.

Implementasi

Nilai dari kisah ini sangat relevan untuk direfleksikan dalam kehidupan modern sekarang. Kebiasaan menunda-nunda seakan menjadi tradisi di kehidupan masyarakat, karena itu ada istilah ‘jam ngaret’ yang menandakan seakan-akan kebiasaan menunda sudah mendapatkan pemakluman. Padahal norma dalam Islam memerintakan untuk senantiasa bersegera dalam melakukan sesuatu, apalagi jika menyangkut persoalan syariat islam.

Dalam surah yang sama digunakan oleh budak Imam Ja’far, di ayat sebelumnya yakni ayat 133 berbunyi “Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari tuhanmu yang luasnya seluas langit dan bumi”. ayat ini menunjukkan bahwa bersegera tanpa menunda-nunda untuk mengerjakan perintah syariat, sama seperti perjalanan singkat menuju Allah yang maha luas ampunannya.

Norma dalam Islam senantiasa memerintahkan untuk senantiasa produktif, Allah SWT memerintahkan melalui ayat ke 7 surah Al Insyirah “Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. karena itulah dalam melakukan suatu pekerjaan, selain menuntut untuk tidak menunda-nunda, kita juga mesti bersungguh-sungguh dan serius dalam mengerjakannya.

Dari kisah Imam Ja’far dan pembantunya menunjukkan bahwa islam sangat menjunjung tinggi etos kerja. Perintah untuk bersegera melaksanakan perintah agama didasari dari paradigma berpikir bahwa peristiwa yang dapat mengubah total hidup seseorang seperti hari kiamat hanya diketahui oleh Allah. Manusia tidak akan pernah tau kapan terjadi peristiwa yang baik dan buruk yang akan menimpanya, karena itu manusia dituntut untuk bersegera untuk melakukan kebaikan, serius dalam mengerjakannya dan tanpa tunda menunda lagi.

Inilah hikmah kenapa hari kiamat merupakan sesuatu yang manusia tidak akan pernah tau kapan terjadinya. Karena dalam Islam, manusia diperintahkan untuk senantiasa berbuat. Beramal sholeh tanpa henti dengan anggapan bahwa hari kiamat ataupun musibah lainnya bisa saja terjadi besok, lusa atau tahun depan sehingga bisa membuat kita termotivasi untuk bersegera melakukan pekerjaan dengan serius tanpa nanti-nanti.